Jumat, 18 Februari 2011

THOMAS STAMFORD RAFFLES

Sir Raffles
Thomas Stamford Raffles, lengkapnya: Sir Thomas Stamford Bingley Raffles lahir pada tanggal 6 Juli 1781 di atas kapal ‘Ann’ di lepas pantai Port Morant, Jamaika. Bisa jadi warganegara Inggris ini merupakan Gubernur-Jendral Hindia-Belanda yang berpengaruh besar pada sejarah Nusantara. Walau hanya sebentar menjabat pimpinan tertinggi di Indonesia masa kolonial itu, jejak ‘Inggris’ yang ditinggalkannya tergolong banyak. Raffles pun tak berumur panjang, Ia meninggal sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-45, 5 Juli 1826, karena apoplexy atau stroke.
Tak banyak diketahui tentang orangtua Raffles. Ayahnya, Kapten Benjamin Raffles, terlibat dalam perdagangan budak di Kepulauan Karibia. Ia meninggal mendadak ketika Thomas baru berusia 15 tahun, sehingga keluarganya terperangkap utang. Thomas langsung mulai bekerja sebagai seorang pegawai di London untuk Perusahaan Hindia Timur Britania, perusahaan dagang setengah-pemerintah yang berperan banyak dalam penaklukan Inggris di wilayah koloni-koloninya. Pada 1805 Thomas Raffles dikirim ke pulau yang kini dikenal sebagai Penang, Malaysia. Tempat tersebut saat itu dinamakan Pulau Pangeran Wales. Inilah awal mula hubungan Thomas Stamford Raffles dengan Asia Tenggara.
Raffles di Hindia-Belanda
Raffles berada di Jawa pada 1811-1816, pertama kali sebagai Lieutenant Governor of Java yang bertanggung jawab kepada Gubernur Jenderal Inggris di India yaitu Lord Minto. Tahun 1814 Lord Minto meninggal dunia dan Raffles
menjadi Gubernur Jenderal di Jawa sampai 1816. Saat Jawa kembali ke tangan Belanda, Raffles tengah menggagas dan mengerjakan proyek Arkeologi (Borobudur) dan Botani (Kebun Raya Bogor) di Jawa. Kemudian sampai tahun 1823 Raffles menjadi Gubernur di Bengkulu. Beberapa wilayah di Sumatra (Belitung, Bangka dan Bengkulu) memang berdasarkan suatu perjanjian tak diserahkan ke tangan Belanda.
Ketika menjabat sebagai penguasa Hindia-Belanda, Raffles mengusahakan banyak hal: ia mengintroduksi otonomi terbatas, menghentikan perdagangan budak, mereformasi sistem pertanahan pemerintah kolonial Belanda, menyelidiki flora dan fauna Indonesia, meneliti peninggalan-peninggalan kuno seperti Candi Borobudur dan Candi Prambanan, Sastra Jawa serta banyak hal lainnya. Ia belajar sendiri bahasa Melayu dan meneliti dokumen-dokumen sejarah Melayu yang mengilhami pencariannya akan Borobudur.
Hasil penelitiannya di pulau Jawa ia tuliskan pada sebuah buku berjudulkan History of Java, yang menceritakan mengenai sejarah pulau Jawa. Dalam melakukan penelitiannya, Raffles dibantu oleh asistennya yaitu James Crawfurd dan Kolonel Colin Mackenzie.
Istri Raffles, Olivia Marianne, wafat pada tanggal 26 November 1814 di Buitenzorg (bogor) dan dimakamkan di Batavia (Jakarta), tepatnya di tempat yang sekarang menjadi Museum Prasasti. Di Kebun Raya Bogor dibangun monumen peringatan untuk mengenang kematian sang isteri.
Salah satu pembaruan kecil yang diperkenalkannya di wilayah kolonial Belanda adalah mengubah sistem mengemudi dari sebelah kanan ke sebelah kiri, yang berlaku hingga saat ini.
Nama Raffles juga dipakai sebagai nama suatu genus dari sekelompok tumbuhan parasit obligat, Rafflesia, untuk menghormati jasa-jasanya. Salah satu jenisnya memiliki bunga sejati terbesar di dunia: padma raksasa atau Rafflesia arnoldi yang menjadi salah satu dari bunga nasional Indonesia.

CHAT BOX


ShoutMix chat widget
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More